Donor Darah: Labour Social Responsibility

Khitanan massal, men-sponsori kegiatan olahraga dan aktifitas partai politik, pengobatan gratis, domba qurban, dll adalah beberapa agenda sosial perusahaan yang sering ditentang dan diributkan oleh karyawannya, alasan penolakannya pun beragam. Diantara karyawan yang tidak setuju dengan aktifitas sosial perusahaan seperti yang disebutkan tadi adalah karena karyawan menganggap bahwa tingkat kesejahteraan karyawan di internal perusahaan sendiri juga masih dibawah standar.
Namun tidak demikian dengan agenda sosial perusahaan yang terkait dengan PMI (Palang Merah Indonesia) baik itu potongan upah untuk bulan dana PMI dan Kegiatan Donor Darah di tingkat perusahaan, tidak ada yang berkomentar, tidak ada yang protes, …. Semuanya setuju…. Begitupun pengurus serikat pekerjanya.
Mumpung masih bulan September (bulan Dana PMI), saya ingin sedikit memberikan pemahaman tentang betapa perlunya pengurus serikat pekerja atau siapapun di perusahaan untuk ikut terlibat dan berperan aktif dalam kegiatan donor darah di tingkat perusahaan, termasuk juga untuk ikut mendonorkan darahnya dalam kegiatan tersebut.
Sebagai salah satu pengurus serikat pekerja di tingkat perusahaan saat itu, saya sering menemui atau membesuk karyawan-karyawan yang mengalami kecelakaan atau bahkan yang sakit dan dirawat di rumah sakit. Pengalaman saya menunjukan bahwa banyak diantara mereka yang sakit atau mengalami kecelakaan, membutuhkan banyak labu darah yang terkadang harus mengantri dan menunggu lama di kantor PMI untuk mendapatkannya, sementara untuk mencari donor pengganti begitu susahnya, bahkan kalaupun ada harus dengan memberikan imbalan .
Serikat pekerja ditingkat perusahaan saat ini masih banyak yang tidak peduli dengan aktifitas sosial semacam donor darah ini, serikat pekerja masih terus berkutat dengan kasus yang tak kunjung berkesudahan. Kegiatan donor darah dan kegiatan sosial lainnya masih dikelola oleh beberapa gelintir orang saja.
Perlunya pengurus serikat pekerja (terutama bidang kesejahteraan) untuk mengajak, membujuk dan mempromosikan kegiatan donor darah ini kepada anggotanya untuk kemudian berbondong-bondong menyumbangkan darahnya, kemudian juga betapa pentingnya pengurus serikat pekerja membuat database tentang golongan darah pendonor, yang tentu saja sangat berguna dikemudaian hari.
Database pendonor ini akan bisa dimanfaatkan untuk membantu karyawan lainnya yang sedang sakit atau mengalami kecelakaan dan membutukkan darah, pengurus tinggal menelepon atau menghubungi pendonor manakala dibutuhkan untuk menjadi donor pengganti.

Inilah beberapa fakta mengapa mendonorkan darah itu penting dan menyenangkan (terutama bagi saya):

1. Ketersediaan Darah di kantor-kantor PMI cenderung sedikit sementara yang membutuhkan sangat banyak.
2. Donor darah sebagai sarana medical checkup, karena dengan kegiatan ini, tensi dan kesehatan saya dicheck (minimal 3 bulan sekali), dengan demikian gejala-gejala penyakit bisa dengan cepat terdeteksi (bahkan petugas PMI akan segera menelepon atau memberitahu, apabila ada gejala penyakit tertentu dalam darah saya, misalkan gejala hepetitis dll)
3. Sebagai orang yang berpenghasilan pas-pasan, saya tidak punya materi untuk disumbangkan kepada mereka yang membutuhkan, salah satu peluang saya untuk beramal terhadap sesama selain dengan tenaga dan fikiran adalah dengan menyumbangkan darah (donor).
4. Sampai detik ini, darah manusia diseluruh dunia hanya dibedakan oleh golongan dan rhesus, dengan demikian darah yang saya sumbangkan bisa diterima dan dimanfaatkan siapapun dan dimanapun sepanjang sesuai dengan golongan dan rhesusnya.
5. Orang kaya menyumbang orang miskin adalah hal yang sangat wajar, namun orang miskin menyumbang orang kaya hanya terjadi dalam aktifitas donor darah, toh PMI tidak memberikan label : “darah si miskin”, “darah si kaya”,”darah kuli pabrik”,”darah kuli panggul”, ”darah direktur perusahaan” dll. Yang tahu identitasnya hanyalah petugas PMI yang menyematkan barcode-nya disitu.
6. Kualitas darah tidak juga ditentukan oleh makanan yang saya makan, toh PMI tidak mempermasalahkan, kalau saya tiap hari hanya makan tahu, tempe, ikan asin, lalap-lalapan atau dengan lauk seadanya.
7. Hati dan organ pembentuk darah dalam tubuh saya dipicu untuk memproduksi sel-sel darah baru, dengan demikian tiap 3 bulan darah saya memperbaharui diri. Semboyan “darah muda”, bukan hanya menjadi slogan milik “Bung Haji Rhoma Irama”, namun juga menjadi slogan darah saya??!! Gkgkgk…

Sebagai penutup tulisan ini, saya ingin menghimbau kepada siapapun baik itu pengurus serikat pekerja atau bukan untuk turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan mendonorkan darahnya. Kalau di perusahaan belum ada kegiatan ini, coba saja di koordinir ada berapa orang di perusahaan yang siap mendonor, kalau cukup banyak tinggal berkoordinasi saja dengan kantor PMI setempat, PMI juga mengadakan upaya ”jemput bola”, datang ke perusahaan-perusahaan yang karyawanya siap menjadi pendonor!
Kalaupun pada akhirnya di perusahaan tidak ada kegiatan dan bahkan belum berencana melakukan kegiatan ini, tidak menjadi persoalan dan tak perlu diributkan, toh kita bisa secara sendiri-sendiri datang ke PMI untuk mendonorkan darah.
Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: