Pilbup Kab.Bandung 2010, Lemahnya Minat Buruh

Alangkah indahnya alam demokrasi di kab.Bandung jika semua elemen masyarakat termasuk buruh tumpah ruah menyambut dan berperan aktif dalam tiap pemilihan kepala daerah.
Jika ada lembaga survey yang melakukan survey terhadap kelompok buruh tentang seberapa peduli buruh terhadap pilbup kab.Bandung, maka bisa dipastikan bahwa pada umumnya buruh di kab.Bandung tidak mengetahui dan tidak begitu peduli terhadap pilbup kab. Bandung.
Ada begitu banyak faktor yang menyebabkan mengapa buruh khususnya di kab.Bandung kurang begitu merespon hajatan politik tsb.
Nasib buruh yang tidak pernah membaik dari hari ke hari, dari masa kepemimpinan bupati yang satu dengan bupati yang lainnya, begitu banyaknya kebijakan pemerintah yang menyesakan serta tidak adanya perlindungan yang signifikan dari pemerintah terkait kasus-kasus yang menimpa buruh, Kolusi dan persekongkolan antara pengusaha dan pemerintah terkait penetapan upah dan lain-lain merupakan sebagian kecil penyebab buruh tidak bersemangat menghadapi pemilihak kepala daerah.
Seolah olah mau ada atau tidak ada pemilihan kepala daerah tidak ada pengaruhnya, bahkan lebih jauhnya mau ada atau tidak ada kepala daerah, tetap sama saja. Buruh harus berjuang sendiri menghadapi pengusaha menuntut kesejahteraan, buruh harus berjuang sendiri membela nasibnya saat pengusaha semena-mena membuat kebijakan menyesakkan.
Pengalaman membuktikan bahwa janji manis yang disampaikan saat kampanye kepada buruh tidak pernah terealisasi, ekspektasi dan harapan yang berlebihan dari buruh dimasa lalu telah membuahkan kekecewaan yang membekas hingga saat ini.
Kotrak politik buruh dengan para kandidat baik legislatif atau eksekutif tidak ada pengaruhnya sama sekali.
Rasa pesimistis buruh makin diperparah dengan praktek-praktek tak terpuji para kandidat yang menghalalkan berbagai cara. .
Sistem pemilihan yang katanya menganut sistem proporsional terbuka dimana rakyat (termasuk buruh) dapat menentukan sendiri siapa kandidat yang akan dipilihnya (kedaulatan rakyat) .partisipasi rakyat (termasuk buruh) sebenarnya harus bisa dimulai dari tahapan ini. Namun yang terjadi saat ini sama aja seperti masa lalu yakni sistem pemilu tertutup, dimana penentuan kandidat masih ditentukan oleh partai (kedaulatan partai). Akibatnya dari sistem kedaulatan partai, maka lomba kolusi diinternal partai sulit dihindari, kandidat yang mendapat simpati publik bisa dengan mudah tersingkirkan oleh kandidat yang tak mendapat simpati.
Bukan hal baru pula jika beberapa kandidat memanfaatkan pundi-pundi pengusaha untuk melancarkan hajatnya. ajang “transaksi kepentingan” begitu vulgar tercium
Nah, jika sudah demikian awalnya, maka dapat diprediksi akhirnya.
Namun “the show must go on”, pilbup tetap akan digelar tak peduli seberapa besar kepedulian buruh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: