Dana Aspirasi, DPR Kehilangan Akal

Wacana dana aspirasi sebesar Rp.15 milyar untuk setiap anggota dewan yang terhormat yang diusung partai golkar dan disambut dengan sukacita oleh partai lainnya (walaupun pada awalnya pasti menolak keras), membuat rakyat bertanya apa sebenarnya yang menjadi motif dibalik wacana tersebut.
Dana aspirasi sebesar itu hanyalah batas bawah, artinya bahwa setiap anggota dewan boleh mengajukan anggaran dana aspirasi melebihi Rp. 15 milyar, tergantung dari berapa besar budget ‘proyek’ yang akan di garap di dapil tempat konstituennya. Jika dikalkulasikan dengan asumsi Rp. 15 milyar per-anggota dewan, maka diperkirakan anggaran yang harus dikeluarkan oleh pemerintah untuk dana aspirasi anggota dewan tersebut hampir mencapai Rp.8,4 trilyun. Jika di DPR pusat dapat direalisasikan, maka tak pelak lagi DPR Propinsi juga akan menuntut pemprov dengan hal serupa, DPR kab/kota pun akan berperilaku sama. Bisa dibayangkan berapa budget anggaran yang harus dikeluarkan pemerintah!!

Sebagai bahan pemahaman,setidaknya ada beberapa catatan yang dapat diambil dari wacana dana aspirasi tsb yakni:
1. Bahwa sebagai lembaga pengawas eksekutif, DPR telah nyata-nyata menunjukan ketidakmampuannya mengemban tugas mengawasi pemerintah, sehingga mereka malah akan terjun sendiri ke ranah eksekutif. Jika dana aspirasi tersebut terealisasi, maka lembaga legislasi kini akan berperan ganda sebagai lembaga eksekutif!
2. Rupanya partai politik saat ini mempunyai masalah besar dalam meraih kader baru atau memelihara kader lama, partai politik sudah kehilangan akal untuk menjaga konstituennya tetap terjaga dan solid, dana aspirasi ini diperkirakan hanya semata-mata untuk memelihara dan mengikat konstituennya agar tidak kabur kemana-mana dengan cara dicekoki dengan uang dan aneka proyek.
3. Gaji, bonus, tunjangan jabatan, tunjangan rapat, tunjangan ini, tunjangan itu, uang lelah, uang lembur, uang menguap, uang lobi, uang ini, uang itu, fasilitas ini dan fasilitas itu rupanya masih dianggap kurang untuk mencukupi kebutuhan mereka, sehingga para anggota dewan merasa perlu untuk ber-ekspansi ria, menciptakan pos-pos baru pendapatannya
4. Sebelum wacana dana aspirasi sebesar Rp.15 milyar ini muncul, kita juga mendengar ada dana aspirasi dengan nilai yang lebih kecil (tapi masih hitungan milyar), namun dana aspirsi itu hanya mengalir dan dinikmati oleh orang-orang yang dekat dengan para anggota dewan, entah itu keluarganya, atau sahabat-sahabat para pendukungnya, tidak pernah menyentuh dan dirasakan masyarakat pemilihnya. Dana aspirasi ini hanya dijadikan alat untuk membalas jasa atau balas budi.
5. Bila anggota dewan selaku legislatif dan pemerintah selaku eksekutif sudah saling berebut anggaran, nyatalah bahwa disitu akan terjadi kolusi dan dapat menciptakan mafia-mafia anggaran. Akan terjadi “bancakan anggaran’, Tak akan jelas lagi mana yang dikontrol dan mana yang mengontrol. Jika kedua belah pihak menyalahgunakan anggaran tersebut maka tidak ada lembaga lain yang dapat mengawasi dan menindak.
6. Rupanya anggota dewan ini pandai memanfaatkan moment dan situasi untuk berkorupsi ria, karena saat ini lembaga-lembaga pemberantas korupsi lemah tak berdaya, mana ada koruptor di negara kita yang ditindak tegas atau dihukum. Aman-aman saja..
7. Bisa dipastikan bahwa proses pembangunan akan berjalan lebih lambat sebab antara lembaga eksekutif dan legislatif akan saling bertubrukan dan akan saling tunjuk untuk membangun sarana dan prasarana masyarakat. Omong kosong bahwa alasan pengajuan dana aspirasi ini adalah untuk mengisi kekosongan atau dalam upaya saling melengkapi.
8. Dll

Bagi buruh yang nyata-nyata adalah kelompok yang dianggap sepele baik oleh anggota dewan maupun pemerintah. Dana aspirasi sebesar Rp. 8.4 trilyun bisa dipastikan tidak akan menaikan taraf kesejahteraan, malah sebaliknya buruh akan makin terpuruk karena orang-orang yang duduk dan mewakili buruh di DPR akan sibuk sendiri-sendiri mengatur dan mengelola proyek-proyek yang dikerjakan, lupa akan tugas aslinya membuat peraturan perundangan yang melindungi seluruh rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: