Kejamnya Politik Bagi Buruh

Dari sekian banyak ‘kejahata politik’ yang menimpa buruh, dalam tulisan kali ini saya hanya ingin mengangkat satu hal saja yakni ‘money politik’.
Benar atau tidaknya pemahaman saya ini, bebas saja rekan-rekan buruh tuk merespon.
Dari pengalaman beberapa kali pemilu, entah itu pilleg, pilpres, pilgub, atau pilbup. Saya merasakan dan mencium aroma tak sedap dan bahkan belakangan ini menjadi ‘sumber penyakit’ bagi buruh, terutama di beberapa perusahaan.
Aroma busuk dan ‘sumber penyakit’ tersebut ternyata bersumber dari praktek ‘money politik’ alias politik uang yang dilancarkan oleh oknum-oknum kandidat (eksekutif/legislatif) atau orang-orang disekelilingnya.
Disatu sisi ada orang yang diuntungkan dari praktek ini, yakni orang-orang yang mendapat uang, tapi dilain sisi ada juga orang-orang atau lembaga-lembaga yang dirugikan, yakni yang dimintai uang.
Saya tidak menafikan bahwa banyak kandidat yang mencalonkan diri itu memang bergelimang uang, tapi jangan pernah menutup mata bahwa banyak juga dari para kandidat tersebut yang bermodal minimal dan atau tak bermodal sama sekali.! Perbandingannya justru malah lebih banyak yang saya sebut terakhir.
Dari sinilah awal bau busuk itu, untuk mendapatkan sokongan dana banyak diantara mereka yang berjibaku terjun ke kantong-kantong uang baik secara perorangan maupun dengan kendaraan partai politik.
Dari sekian banyak kantong uang, salah satunya adalah kalangan pengusaha., dengan sedikit pressure kekuatan parpol atau iming-iming kemudahan dikelak kemudain hari, banyak pengusaha yang terpaksa merogoh koceknya untuk mendanai kandidat tsb..
Disaat masa reformasi seperti ini, coba rekan bayangkan ada berapa banyak parpol yang mengusung calonnya, jika tiap parpol atau tiap kandidat datang kepada pengusaha dengan pressure dan penekanan serupa, berapa biaya perusahaan yang harus dikeluarkan? Sanggupkah pengusaha melawan arus partai politik dan kekuasaan pemerintah?
Mungkin atau bahkan bisa jadi penyebab hancurnya beberapa perusahaan di tanah airku ini adalah salah satunya karena terlalu banyaknya pengeluaran untuk hal-hal seperti tsb.
Pasti rekan-rekan buruh tahu, bahwa perusahaan tidak akan bisa memangkas cost untuk pembelian bahan baku, sparepart, dan pendukung-pendukung produksi lainya. Yang paling mudah dipangkas adalah segala hal yang berurusan dengan manpower/karyawan, upah (upah pokok, upah lembur, uang makan, uang transport, iuran jamsostek, dll),pengurangan sarana prasarana (seragam kerja, bis jemputan dll)
Jadi jangan anggap bahwa ajang pesta demokrasi/pemilu tidak berdampak besar bagi kesengsaraan dan keterpurukan kalangan buruh, setidaknya sampai saat ini, mengingat perilaku politiknya masih demikian. .
Banyak perusahaan yang sengaja menutup atau me-rumah-kan karyawanya agar disangka bangkrut atau merugi menjelang pemilu/pilkada. Dengan harapan para ‘pengepul’ modal politik tidak mendatanginya.
Dengan banyaknya pengeluaran yang tak perlu, cost produksi jadi tinggi, akibatnya merugi. Jika sudah merugi apa yang bisa diharapkan bagi buruh?
Bagi buruh dan para pimpinan buruh ditingkat perusahaan ini ada situasi yang dilematis, disatu sisi buruh ingin agar perusahaannya tetap jalan dan mendapatkan profit, disisi lain ia harus juga mengerti bahwa penutupan atau pengrumahan karyawan tsb semata-mata untuk menyelamatkan keuangan perusahaan.
Apakah pelaku-pelaku politik di tanah air tercinta ini akan tatap begini? Sehingga hanya untuk sebuah pesta demokrasi banyak rakyat kecil sekelas buruh yang dikorbankan.
Layakkah disebut pemimpin manakala untuk memuluskan kepemimpinanya ia menguras keringat dan masa depan buruh? Menguras dana jamsostek dengan dalih meminjam dsb, meguras kantong pengusaha dll

2 Balasan ke Kejamnya Politik Bagi Buruh

  1. Torres Oey mengatakan:

    money politic is good

  2. encep mengatakan:

    betul, perlu dipikirkan juga bagaimana perusahaan di indonesia ini bisa berjalan dengan sehat.
    kalau perusahaan rugi buruh mau dibayar pake apa?? di phk?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: