Krisis, Tingkatkan Peran BLK

Fm; Bernhard Nababan (Migran Care)

Fleksibilitas pasar kerja rugikan pekerja

Krisis ekonomi global, yang dampaknya dirasakan Indonesia sejak 2008, meningkatkan peran balai latihan kerja (BLK) dalam mengatasi tingginya tingkat pengangguran akibat pemutusan hubungan kerja (PHK).
Di sisi lain, perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI) tidak dapat memanfaatkan momentum krisis global ini, seperti yang terjadi saat Indonesia dilanda krisis pada 1998.
“Kalau pada krisis sebelumnya yang ambil untung itu adalah PJTKI, pada krisis kali ini BLK yang lebih berperan,” ujar Wahyu Susilo, Policy Analyst Migrant Care, dalam acara diskusi terbatas yang diselenggarakan oleh Oxfam GB, Rabu.Menurut Wahyu, minimnya peluang kerja di luar negeri membuat pengiriman TKI tidak semasif seperti yang terjadi pada saat Indonesia dilanda krisis pada 1998 lalu. Saat itu, korban PHK di dalam negeri dapat memilih bekerja di luar negeri.Namun, pada saat krisis kali ini, hampir seluruh negara tujuan pengiriman TKI juga tengah dilanda kesulitan ekonomi.”Pada krisis 1998, PJTKI benar-benar ambil untung dari krisis waktu itu.
Jumlah PJTKI naik tajam dari sekitar 200 PJTKI pada 1997 menjadi 600 PJTKI pada 1999. Pada krisis kali ini, justru banyak PJTKI yang bangkrut karena mereka tidak mampu menanggung biaya operasional yang tinggi dan ketatnya persaingan,” jelasnya. Sebaliknya, pemerintah aktif merevitalisasi kembali sejumlah balai latihan kerja dengan mengalokasikan dana sekitar Rp160 miliar.”Jadi kalau pada krisis 1998 yang ambil untung PJTKI, pada krisis kali ini adalah giliran BLK,” kata Wahyu.
Selain memberikan pelatihan untuk tenaga kerja di sektor formal, BLK-BLK tersebut juga diharapkan dapat memberikan pelatihan untuk calon TKI di sektor informal yang akan bekerja ke luar negeri. Dia menilai rencana pemerintah untuk menggenjot pengiriman TKI sektor formal dipastikan tidak dapat direalisasikan dengan baik, karena krisis ekonomi global telah membuat melambatnya penyerapan usaha sektor formal di sejumlah negara tujuan pengiriman TKI.”Saya pikir tidak usah malu mengirimkan pembantu rumah tangga. Mereka kan punya skill. Para TKI ini seharusnya bisa dilatih di BLK-BLK pemerintah, sehingga tidak harus ikut pelatihan yang diadakan oleh PJTKI. Saya pikir ini adalah tantangan bagi BLK-BLK yang tengah direvitalisasi,” katanya.

Fleksibilitas pasar kerja

Dalam kesempatan itu, Campaign Officer Oxfam GB Roysepta Abimayu menyebutkan krisis global kali ini telah dimanfaatkan oleh banyak perusahaan untuk mempercepat langkah menuju angkatan kerja yang lebih fleksibel.
Fleksibilitas pasar kerja menempatkan pekerja dalam kondisi dan upah yang tidak terjamin, terutama akibat jangka waktu kontrak yang lebih singkat dan upah yang lebih rendah.”Sebuah serikat pekerja nasional mencatat terdapat 6.500 pekerja tetap pada empat pabrik yang terkena PHK, lalu posisi mereka diganti dengan pekerja kontrak,” katanya.
Wahyu menambahkan praktik serupa juga banyak dilakukan oleh pemberi kerja di negara-negara tempat TKI bekerja.

Sumber: Bisnis Indonesia

http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/jasa-transportasi/1id155735.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: