Bagaimana Buruh Menyikapi Sebuah Kebijakan

Positif thinking atau berfikir positif adalah cara berfikir serta bagaimana kita mengambil sikap dalam menghadapi sebuah realita atau keadaan dari sudut pandang yang positif. Sebaliknya berfikir negatif berarti kita mengambil sikap dari sudut pandang yang negatif.
Contoh, saat lelah berolahraga seseorang yang baru kita kenal tiba tiba menawarkan segelas air mineral. Seorang yang berfikir positif tentu dengan mudah saja menerima tawaran tersebut, ia berfikir bahwa air itu bersih, orang yang memberi baik, hausnya akan segera hilang. Sebaliknya orang yang berfikir negatif tidak akan serta merta menerima tawaran tersebut, jangan jangan air ini sudah diracuni, jangan-jangan orang ini dukun santet, jangan jangan nanti kita dibuat pingsan dan lain-lain.
Cara pandang mana yang umumnya kita ambil?
Orang selalu mengira bahwa berpola pikir negatif (negatif thinking) adalah sebuah hal yang salah atau sebaiknya dihindari. Namun bagi buruh dan pimpinannya negatif thinking itu justru perlu diasah, asal proporsional.
Berfikir negatif bukan berarti mencurigai, berfikir negatif berarti melihat dari sisi yang berbeda, ini merupakan tindakan yang pintar, melihat dari sisi yang berbeda merupakan seni dalam memperkaya perspektif sebuah persoalan. Berpikir negatif berarti upaya untuk tetap waspada.
Jika organisasi Serikat Pekerja diminta pendapatnya oleh perusahaan tentang sebuah kebijakan yang akan diluncurkan, maka keputusan atau jawaban yang disampaikan seharusnya adalah hasil penelaahan dari kedua sisi tersebut.
Contoh, sebuah perusahaan yang selama ini menggunakan bis jemputan karyawan tiba-tiba mengeluarkan kebijakan bahwa seluruh karyawan mendapat kemudahan untuk kredit kendaraan bermotor. Pola pikir positif berkata “hebat perusahaan berbaik hati meningkatkan kesejahteraan dengan demikian status sosial meningkat!”,” gengsi kita dimata orang lain meningkat karena mempunyai kendaraan bermotor!”,” mobilisasi ke tempat kerja jadi mudah!” dan lain-lain. Sebaliknya pola pikir negatif kita juga semestinya berkata: “Jika kredit diambil, maka jemputan akan hilang!?”, ”perusahaan pasti tidak akan memberi uang transport, mending kalo upahnya dinaikan”,” jika kendaraan kita mogok di jalan dan kita terlambat masuk, perusahaan pasti tidak mau tahu!”, ” perusahaan juga tidak bertanggung jawab soal perawatannya ini pasti akan menambah biaya hidup!”, ” perusahaan tidak akan bertanggungjawab jika terjadi sesuatu dalam perjalanan”, dll-dll.
Contoh lainnya, perusahaan memberikan pasilitas pinjaman uang untuk menutupi berbagai kebutuhan hidup kita, baik melalui keuangan perusahaan langsung, koperasi maupun pihak bank. Untuk contoh yang ini silahkan analisa sendiri dari dua sisi pemikiran anda!
Pimpinan buruh dan anggotanya sebaiknya berhati-hati mengambil keputusan atau memberikan jawaban atas kebijakan seperti contoh-contoh diatas, sebab pada kenyataanya jika kita teliti, itu adalah salah satu cara perusahaan untuk mengurangi biaya operasional perusahaan, ini adalah merupakan upaya pendegradasian tanggungjawab perusahaan terhadap kesejahteraan karyawannya, sangat disayangkan karena hal itu sudah mengarah pada hal-hal normatif
Dengan demikian pada akhirnya perusahaan dengan mudah melemparkan semua tuntutan kesejahteraan dengan berkata: “jika anda memang butuh uang, silahkan ajukan pinjaman saja……”
Negatif thinking membawa kita untuk selalu waspada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: