Mayoritas Buruh, Takut PHK


Sang Inspirator
Jam 05.30 WIB, Karman berjalan menyusuri gang sempit menuju jalan raya menuju tempat dimana ia dan teman-temanya sesama karyawan PT. PIS menunggu bis jemputan.
Karman hanyalah seorang lulusan SLTA namun ia adalah sosok pekerja panutan yang punya idealisme dan dedikasi tinggi terhadap perusahaanya, ia bekerja pada PT. PIS sudah hampir 15 tahun. Karman bangga dengan statusnya sebagai karyawan PT.PIS walaupun dengan upah seadanya dan dengan posisi jabatan yang tidak pernah naik-naik.
Kebanggaannya terhadap statusnya mulai pudar saat suatu hari Karman ikut berteduh karena hujan di jongko seorang bapak penjual gorengan, karena lama menunggu Karman pun memberanikan diri untuk berbincang bincang dengan tukang gorengan tersebut.
“udah lama pa, jual gorengan? “ Kata Karman, “ya udah hampir 15 tahun, sejak bapa di PHK” jawab si bapak.
Saat sedang berbincang bincang, masuklah dua orang pemuda ke jongko penjual gorengan tersebut, yang seorang mengenakan seragam SMA, dan seorang lagi mengenakan jas almamater sebuah perguruan tinggi terkenal di kota Bandung, kedua pemuda tersebut kemudian mencium tangan bapak penjual gorengan.
Karman yang dari tadi memperhatikan keadaan tersebut kemudian melanjutkan obrolan dengan bapak penjual gorengan. “siapa pak, saudara ya?” tanya Karman, “ Itu yang pakai seragam anak saya yang nomer 3, dan yang ini kakaknya” jawab bapak penjual gorengan sambil menepuk pundak anaknya yang satu lagi. “Oooo..” jawab Karman sambil kemudian bersalaman pada keduanya. ”emang putranya ada berapa pa?” lanjut Karman, “semuanya empat, Cuma kakaknya yang satu lagi kuliahnya jauh, di Jogja, dan yang bungsu masih SMP” jelas bapak penjual gorengan. “Oooo…” gumam Karman sekali lagi.
Hujan pun agak sedikit reda, dan Karman pun bergegas berpamitan sambil tak lupa mengucapkan terima kasih kepada bapak penjual gorengan tersebut. Sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya, benak Karman dijejali berbagai macam pertanyaan, “Bagaimana caranya bapak tersebut sanggup menyekolahkan ke-empat anaknya, belum lagi untuk makan sehari-hari, belum untuk biaya lain-lain, ahhhh… Cuma dari hasil menjual gorengan, apa bisa ya? “ pikirnya, sementara ia sendiri yang hanya mempunyai anak 2 yang satu baru kelas 1 SMP dan yang kecil baru kelas 4 SD sudah begitu pontang panting membiayainya, itupun dibantu oleh mertuanya.
Hari-hari Karman setelah kejadian itu diwarnai dengan termenung membayangkan masa depannya dan masa depan keluarganya kelak, jika keadaan dan penghasilannya masih seperti saat ini, ia terus mengkalkulasi apa yang ia dapatkan selama bekerja lebih dari 15 tahun di PT. PIS dan bagaimana caranya agar ia berpenghasilan lebih demi masa depannya.
PHK dan Rasa Ketakutan yang Berlebihan
Situasi yang seperti kisah diatas, barangkali juga pernah dialami saya dan juga banyak pekerja lain saat ini, terutama disektor tekstil dan garmen yang mayoritas upahnya sangat minim.
Adalah naluriah manakala seseorang mempunyai keinginan untuk mendapatkan penghasilan dan upah yang lebih baik dimasa yang akan datang, namun kadang-kadang keinginan untuk merubah itu sering terkalahkan oleh berbagai faktor baik dari dalam maupun luar diri kita.
Ada satu permasalahan yang saya yakin sampai saat ini menggelayuti pikiran para pekerja. Manakala mereka begitu enggan dan malas untuk berbuat sesuatu menyangkut masa depannya. Dan masalah itu adalah ancaman PHK.
Begitu mendengar kata PHK , maka yang terbayang dibenak pekerja adalah berhentinya pendapatan, jika sudah tidak berpendapatan maka darimana dapat makan, bagaimana menyekolahkan anak, darimana beli pakaian, siapa yang menjamin kesehatan, apa kata anak istri serta mertua nanti jika jadi pengangguran, dll-dll.
Memang, alasan-alasan tersebut dianggap wajar, namun akan menjadi tidak wajar jika kita melebih-lebihkan rasa ketakutan tersebut sehingga kita enggan untuk merubah keadaan.
Faktor internal
Hambatan untuk berubah biasanya hal ini disebabkan karena faktor kemalasan, malas untuk mencoba sesuatu yang baru, malas untuk berfikir, malas untuk meninggalkan suasana keakraban berteman ditempat kerja, pokoknya merasa nyaman dengan keadaan.
Faktor itulah yang kemudian selalu mengekang kreatifitas berpikir kita untuk merubah keadaan, sama sekali tak berdaya untuk menggagas ide-ide brilian meraih kehidupan yang lebih baik.
Faktor eksternal
Dalam rangka meningkatkan kinerja karyawannya, banyak sekali perusahaan yang menerapkan pola ancaman, “kalau target tidak tercapai, saya tidak akan segan-segan memecat anda dan anak buah anda!, masih banyak diluaran sana yang sanggup menggantikan anda!!!” begitulah kira kira ucapan yang sering dilontarkan. Ancaman PHK inilah yang jadi senjata paling mematikan untuk menggenjot produksi dan menjadikan karyawan tidak berbuat macam-macam.
Angkatan kerja baru yang membludak dan tidak terserap lapangan kerja juga mempengaruhi pola pikir pekerja untuk tidak menuntut perbaikan kesejahteraan, pengusaha dengan mudah mengangkat karyawan baru, oleh karena itu menuntut perbaikan kesejahteraan kini identik dengan ancaman PHK.
Selain kedua faktor ekternal diatas, adalagi satu faktor yang tak kalah berpengaruhnya terhadap keengganan pekerja merubah keadaan, yakni peraturan-peraturan ketenaga kerjaan yang dibuat wakil rakyat dan pemerintah, kini lebih condong dan bertubi-tubi menguntungkan para pengusaha dibanding kepada pekerja. Contohnya adalah kemudahan perusahaan untuk melakukan outsourching, kemudahan untuk melakukan penangguhan upah, kemudahan untuk menyatakan bahwa perusahaan tersebut pailit, pendegradasian nilai-nilai nominal pesangon dan komponen-komponen upah, pengurangan hak-hak cuti pekerja dll, dan tidak ada satupun peraturan perundangan yang dibuat untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja.
PHK Bukan Kiamat!
Setiap mahluk hidup pasti akan mati, setiap ada awal pasti ada akhir, itulah kehidupan, begitupun bahwa setiap kita diterima bekerja pasti suatu saat kita akan berhenti bekerja!
Kisah Karman yang saya sampaikan diatas, disajikan sebenarnya adalah untuk memberikan pengertian kepada kaum pekerja bahwa sebenarnya begitu banyak celah yang bisa dilalui untuk memulai babak baru menghadapi resiko PHK, setidaknya ada harapan bahwa diluaran sana saat ini, begitu banyak orang yang hidup baik-baik saja dan bahkan lebih baik, bisa makan, bisa menyekolahkan, bisa beli rumah, serta sehat wal afiat.
Apa yang dicari kebanyakan pekerja saat ini, penghasilankah atau statuskah? Buat apa kita bekerja siang malam hanya untuk bangga terhadap status bahwa kita tercatat sebagai pekerja di perusahaan A atau instansi B, sementara dirumah anak dan istri merana, karena kebutuhan standar hidupnya tak terpenuhi?
Apa salahnya jika menjadi pedagang gorengan, penjual bakso, penjual ayam bakar, penjual pulsa, atau pengepul sampah plastik, jika penghasilannya begitu meyakinkan. Apa salahnya jika kita mencoba peruntungan ditempat kerja yang lain yang lebih menjanjikan.
Oleh sebab itu, menghadapi ancaman PHK tidak perlu dengan sikap yang pesimis, lebih jauhnya jika kita pesimis maka sama saja dengan menyepelekan Tuhan, hindari berpikir bahwa rizqi kita ditentukan oleh perusahaan kita, berfikirlah bahwa Tuhan YME, akan selalu memberikan rizqi-Nya dimanapun kita berada termasuk jika di PHK.
Mulai sekarang galilah potensi diri, mana yang bisa kita berdayakan, jika kita punya keahlian berdagang, berancang-ancanglah untuk berdagang, jika kita ahli utak-atik kendaraan asahlah keahlian itu, ataupun jika kita rasa tidak punya kelebihan apa-apa, belajarlah atau berlatihlah sesuai dengan minat dan ketertarikan kita. Pelajari kisah-kisah sukses orang lain yang mungkin akan menginspirasi kita. Banyak sekali kisah orang sukses yang dahulunya adalah korban PHK, sekali kali cobalah anda buka situs Google kemudaian search kata “kisah sukses korban PHK”, maka tak kurang dari 15.000 kisah dan cerita seputar itu, banyak tip dan trik menghadapi dan menyikapi PHK.
Jadi, janganlah takut dengan PHK, buatlah PHK mejadi Pijakan Hidup Kedepan, PHK bukan akhir kesuksesan, namun awal dari keberhasilan.
Stop PHK!
Sampai disini mungkin rekan-rekan menyimpulkan bahwa saya sangat setuju upaya PHK yang dilakukan manajemen!
No…… tidak akan ada seorang karyawan pun di dunia ini yang mau menerima begitu saja kebijakan PHK yang dilakukan manajemen dengan seenaknya! Ini artinya bahwa upaya mem-PHK-kan karyawan adalah solusi terakhir setelah dilakukan berbagai macam upaya, PHK pada dasarnya dapat kita terima jika prosedur dan pelaksanaan konvensasinya sesuai sebagaimana diatur oleh undang-undang dan peraturan yang berlaku, manakala prosedur dan tatalaksananya tidak ditempuh atau dilakukan sepihak dan seenaknya, maka kita wajib menolaknya sekuat tenaga.

(Tulisan ini saya dedikasikan untuk teman-temanku di PT.Panafil dan perusahaan lain yang sedang menghadapi ancaman PHK. Tetap semangat hadapi jalani hidup…. braderrrr! At least i ‘ve a lot of friend..hahaha..)

2 Balasan ke Mayoritas Buruh, Takut PHK

  1. ed mengatakan:

    itulah penting nya kita merubah mindset untuk tak sekedar menjadi org gajian dgn masa depan yg gak jelas, wirausaha adalah jalan keluar untuk membuat hidup menjadi lebih baik….
    Your Keywords

  2. Herizal Alwi mengatakan:

    🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s