Mengendalikan Atau Dikendalikan?

Baru beberapa bulan ini saya kembali bertemu Rudi(nama samaran), teman waktu saya kecil dikampung, dia baru 4 tahun bekerja di Bandung. Sebelumnya ia bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta dengan gaji yang lumayan gede, jika dibandingkan dulu kini ia sudah punya rumah, rumahnya cukup luas dengan perabotan yang cukup lumayan dan walaupun tidak cukup bagus ia juga telah memiliki sesuatu yang dulu ia idam-idamkan yakni sebuah mobil.
Jika dibandingkan gaji dari tempat ia bekerja sekarang, gaji di Jakarta jauh lebih besar, namun selama ia kerja di Jakarta ia hanya mampu membeli sebuah sepeda motor itupun dengan cara mencicil. Sungguh rudi telah jauh berbeda setelah tinggal dan bekerja di Bandung. “Apa sih rahasianya rud?’ kataku, kemudian ia menjawab bahwa teman-teman kerjanya yang dulu sering mempengaruhinya dan mengajaknya berbelanja, sehingga begitu ia dapat gaji dan teman-temanya memberitahu berbagai barang bagus dan murah ia langsung memburunya tanpa pikir panjang sampai dompetnya kempes akibatnya sering sekali untuk biaya hidup bulan itu ia ngutang ke teman-temanya,. “kini situasinya berbeda’, lanjutnya. Ditempat kerja sekarang teman temannya sering mengajaknya ke malelis taklim, walaupun dengan gaji kecil ia sangat nyaman dengan teman-temanya, makin lama makin sering ikut pengajian membuatnya lebih mampu mengendalikan diri.
Cerita Rudi diatas adalah sebuah pelajaran berharga bagi saya, ternyata kemapanan finansial tidak mutlak dipengaruhi oleh besar kecilnya gaji atau penghasilan, tetapi dari bagaimana kita mengaturnya. Harta kekeyaan termasuk uang didalamnya adalah benda mati, yang ada atau tidaknya tergantung dari kita selaku pengelolanya, bagaimana seharusnya kita memperlakukan gaji, bagaimana seharusnya kita mempertahankannya dari godaan-godaan atau hasrat-hasrat konsumtif, bagaimana memilih-milih teman, sehingga terjaga dari pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu bahkan mubazir, dan semuanya itu bermuara pada diri masing masing sampai sejauhmana kita memiliki semangat untuk mengendalikan, bukan dikendalikan.
Berat sekali rasanya kita menanggalkan kebiasaan “buruk” manakala baju yang kita pakai tidak bermerk, merasa murahan, minder dll, padahal menurut orang lain baju kita sudah cukup pantas, berat bagi kita untuk mengeluarkan sejumlah uang untuk bayaran sekolah, atau untuk membeli buku, tetapi sangat mudah jika untuk membeli rokok, cemilan atau mainan.
Perlu proses yang panjang untuk belajar mengendalikan pengeluaran,namun kita harus konsisten agar kelak dikemudian hari hasilnya dapat kita rasakan.
Jujur pada diri sendiri, bahwa sesungguhnya gaji yang kita dapat saat ini ga pernah mampu untuk memuaskan hawa nafsu kita, seimbangkan gaji dengan pengeluaran kita, jangan memaksakan diri, hapus kebiasaan buruk mengutang, pinjam uang, cashbon dll, hanya untuk kebutuhan yang tak berguna, toh orang lain juga akan menilai dengan cibiran, jika penampilan serta gaya hidup berlaga seperti orang kaya padahal mereka tahu siapa kita sebenarnya.

Yuk, kita sama-sama belajar dari sekarang!

Satu Balasan ke Mengendalikan Atau Dikendalikan?

  1. baezur mengatakan:

    setuju,
    menuruti hawa nafsu takkan ada puasnya yang ada hanya penyesalan di kemudian hari.

    aku turut prihatin skalìgus suport buat rudi agar tetap enjoy dalam menghadapi segala ujian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: